Kota Malang - Keberadaan komunitas peduli sampah 'Tempe Sabar' atau Tempat Pemilahan Sampah Barokah di Jalan KH Hasyim V Rt 7 Rw 3 Kelurahan Kedungkandang Kecamatan Kedungkandang patut diapresiasi. Karena komunitas yang berdiri sejak 14 Agustus 2022 lalu ini selain sebagai bekerja secara sosial juga hasil dari penjualan sampahnya disedekahkan kepada yatim piatu, kaum dhuafa dan petugas kebersihan.
Komunitas ini diinisiasi Susianah Ita bersama sang suami Joni Dwianto, 3 tahun lalu yang berawal dari keresahannya melihat sampah berserakan di sekitar rumahnya. Selain itu, rendahnya masyarakat dalam memilah jenis sampah. Kala itu sang suami saat menggarap lahan banyak menemukan sampah, khususnya sampah plastik. Sehingga saat menggarap lahan membutuhkan tenaga ekstra.
Akhirnya setelah berembug dengan sang suami, Ita bersepakat untuk mendirikan komunitas 'Tempe Sabar'. Karena saat itu belum menemukan konsep kerjanya seperti apa, Ita menggandeng Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Brawijaya Malang. Pada akhirnya ketemulah konsep sedekah sampah.
Beberapa hal itu yang disampaikan perempuan paruh baya itu saat ditemui di rumahnya pada Rabu (5/2). Berjalannya waktu, saat ini sudah ada 20 orang warga sekitar yang bergabung dengan komunitas tersebut.
Meski sebagai komunitas yang mengumpulkan berbagai sampah namun para anggota tidak mengambil sampah yang ada di tempat sampah pada umumnya. Akan tetapi menerima pemberian sampah dari warga, setelah sampah-sampah dipilah berdasarkan jenisnya.
"Di tahun pertama berdirinya komunitas ini, warga yang memberi sedekah sampah hanya di wilayah RW 3 Kelurahan Kedungkandang. Namun saat ini sudah meluas hingga keluarahan Lesanpuro, Madyopuro, Sukun dan bahkan beberapa daerah di kabupaten Malang", jelas perempuan yang juga anggota kader lingkungan kota Malang tersebut.
Selain sebagai wujud kepeduliannya terhadap lingkungan, Ita juga ingin mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kebersihan dan memilah sampah berdasarkan jenisnya. Seperti sampah plastik, kertas, botol beling/ kaca dan lain-lain. Disisi lain, perempuan berusia 47 tahun ini ingin keberadaan komunitas 'Tempe Sadar' bermanfaat bagi sesama, khususnya bagi orang-orang yang membutuhkan uluran tangan.
"Karena sudah banyak warga peduli dan yang memberi sedekah sampah, dan dibeberapa tempat ada komunal sampah, setiap hari Jumat, suami saya bersama bapak-bapak lain mengambil sampah-sampah tersebut. Selama 20 bulan kami mengumpulkan sampah sekitar 7,5 ton," beber Ita.
Setelah sampah-sampah dipilah dan dikemas rapi, lanjut dia, sampah dijual kepada tengkulak atau pengepul dan hasilnya 100 persen disedekahkan. Sedekah yang diberikan setiap 6 bulan ini nilainya bervariasi, mulai dari Rp 10 juta - Rp 20 juta. (asa)
0 Comments